18 April 2013 | No Comments »Posted in Hukum dan Politik
1200_39903020757_8040_a

Kekerasan Seksual Terhadap Anak Marak, Ibu di Aceh Surati Pemimpin

Kamis, 18 April 2013

PerspektifNews, Banda Aceh – Koalisi Advokasi dan Pemantau Hak Anak (KAPHA) Aceh, menyatakan keprihatinannya atas kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi di Aceh. Mereka juga mencanangkan tahun 2013 sebagai tahun darurat kekerasan seksual terhadap anak. KAPHA mencatat, pada tahun 2013 terdapat 66 kasus kekerasan yang terjadi pada anak, dimana 27 diantaranya adalah kasus kekerasan seksual terhadap anak.

“Maraknya kekerasan seksual pada anak, membuat para ibu di Aceh menjadi was-was akan keselamatan puteri-puteri mereka ketika berada di sekolah ataupun di luar rumah,” ujar Taufik Riswan, Sekretaris Jenderal KAPHA Aceh.

Diantara dari sekian ibu yang gelisah pada keselamatan anaknya adalah Unsuril Imani. Ibu rumah tangga dengan dua orang anak yang masih bersekolah dasar ini, kemudian menulis kegelisahan hatinya kepada para pemimpin negeri ini melalui akun media sosialnya. Berikut ini adalah surat yang dibuat oleh beliau. (Dodi Sanjaya)

 

Yth Gubernur Propinsi Aceh

Yth Walikota Banda Aceh

Yth Kapolda Propinsi Aceh

Yth Bapak Pejabat Kejaksaan Negeri Banda Aceh

Bapak Gubernur dan Walikota yang kami hormati,

Sebelumnya, izinkan kami mengirimkan surat Al Fatihah bagi seorang anak tak berdosa permata hati ayah bundanya, Diana, beristirahatlah, Nak! Allah¬†sayang kepada mu. Serta salam dan doa kami pula bagi ananda NS di Kuta Malaka Aceh Besar yang masa depannya telah dicabik-cabik oleh manusia¬†jahat berhati batu, Allah tidak tidur, Nak,…

Bapak-bapak yang terhormat,

Berita media lokal dalam beberapa hari ini menjadi tidak menarik bahkan cenderung mengerikan bagi sebagian besar para orang tua di Banda Aceh dan Aceh Besar terlebih bagi kami yang mempunyai anak-anak usia sekolah dasar. Hal-halyang menakutkan dan amat sulit menjelaskan kepada anak-anak kami, kenapa mereka hanya boleh bermain di dalam rumah saja, tanpa boleh keluar dari rumah tanpa pengawasan kami orang tuanya. Jika ruang gerak yang begitu terbatas ini membuat mereka terkungkung, semata-mata ini kami lakukan hanya karena kami terlalusa yang kepada mereka, walau mungkin dengan cara yang salah.

Bapak polisi yang terhormat,

Anda tahu, jam sekolah sekarang menjadi waktu yang menegangkan dan mencemaskan bagi kami. Rasanya waktu bejalan lambat menunggu jam sekolah selesai. Yang terpikirkan apakah mereka akan aman di sekolah, mereka bisa terbebas dari ancaman kejahatan yang dilakukan oleh orang yang tak beradab, dan pertanyaan lain yang mengelayuti pikiran kami. Bayang-bayang buruk terhadap aksi kejahatan senantiasa menghantui kami orang tua mereka. Walau sebenarnya kami haqqul yakin bahwa sekolah dan segenap perangkatnya adalah lingkungan yang harus mereka masuki demi masa depan mereka kelak. Akibat dari rasa was was yang berlebihan ini juga berdampak terhadap cara kami memandang sekolah itu sendiri. Berita tentang NS itu masih sangat segar, Pak. Anak kecil tak berdosa ini yang belum paham sepenuhnya tentang kehidupan harus menjadi korban kebiadapan orang yang nota benenya adalah pendidik. Mungkin ia hanyalah salah satu dari sekian banyak kasus yang terjadi namun tak pernah dilaporkan. Apakah ini yang namanya Kota Ramah Anak? Sungguh pak, sekali lagi ini menakutkan, sangat menakutkan. Sebagai rakyat kami hanya bisa membagi rasa ketakutan ini kepada Bapak-Bapak sebagai pemimpin kami.

Bapak-Bapak yang saya hormati,

Yang lebih ironis adalah bahwa dulu kami merasa mesjid menjadi tempat yang aman bagi mereka, karena selain sebagairumah ibadah kita kaum muslimin, mesjid juga sebagai tempat belajar membaca Alquran juga hal-hal baik lainnya berkenaan dengan ilmu agama. Tapi sekarang ini juga menjadi tempat menakutkan. Pak,.. kami harus mengantar mereka ke sana sesaat sebelum proses belajar dimulai dan juga memaksa mereka segera pulang setelah jam TPA berakhir. Sebelumnya di rumah juga telah mewanti- wanti mereka untuk tidak menggunakan fasilitas umum di mesjid seperti WC, masuk kantor ustaz/ah, dan seribu larangan lainnya yang membuat mereka bertanya dan bahkan sedikit berontak. Di waktu lain pula kami tidak lagi memperbolehkan mereka shalat berjamaah di mesjid yang sebenarnya mereka senatiasa melakukannya misalnya waktu Magrib. Tapi rasa takut ini membelenggu kami para orang tua, di satu sisi kami ingin anak-anak yang kami cintai ini menjadi generasi rabbani yang saleh dan salehah, suka ibadah dan cinta Rumah Allah, menjadi aset agama dan negara ke depannya. Terutama pula mereka akan menjadi pertanggung jawaban kami di akhirat kelak. Tetapi kami pula yang memasung hak ilahiyah mereka atas nama rasa sayang kami kepada mereka. Ketakutan atas ketidakmapuan kami ini menjadi penghambat bagi mereka unutuk mendapatkan ilmu agama bahkan seolah-olah menjauhkan mereka dari kegiatan agamawi. Tetapi kami bisa apa, Pak?

Bapak jaksa dan hakim yang kami hormati,

Informasi terbaru yang kami terima bahwa pelaku pemerkosaan dan pembunuhan bocah Diana adalah residivis untuk kasus yang sama. Artinya dia pernah melakukan kejahatan yang seksual terhadap anak dan hanya dihukum sebentar lalu kembali menjadi hantu yang gentanyangan dan melakukan kejahatan terhadap Diana. Seringan itukah hukumannya? Jika hari ini dia sudah ditangkap kembali, masuk penjara dan beberapa bulan lagi bebas bukan mustahil anak-anak lain akan menjadi korban berikutnya dari orang yang sama. Karena itu kami mohon dengan sangat agar dia dihukum dengan seberat-beratnya. Tidak ada satu hal pun yang membuat dia layak mendapatkan keringanan atas perbuatan jahat dan biadap itu. Anak kami NS di Kuta Malaka seumur hidup akan mempunyai catatan kehidupan kelam. Namun di sisi lain jika si pelaku hanya mendapatkan hukumana ringan, dan bisa bebas setelah proses itu dijalani. Pertanyaanya, apakah ini sebanding, apakah hak anak kami NS sebagai korban sudah terpenuhi? Apakah hukuman itu menjamin pelaku tidak akan kembali melakukan kejahatan terhadap anak yang lainnya? Tidak sama sekali,.. apapun nama hukumanya, Pak,. Kami mohon hukum semua pelaku ini dengan hukuman yang paling berat sehingga tidak pernah ada lagi orang jahat yang berniat untuk melakukan kebiadapan atas semua anak di kota ini. Karena mereka adalah anak-anak kita, Pak..

Bapak-bapak yang terhormat,

Demikian surat terbuka ini kami sampaikan, terima kasih sudah berkenan membaca dan mendengar kegundahan kami,semoga Allah senatiasa menjaga anak-anak kita. Amin.

Unsuril Imani

Ibu dua putri, Banda Aceh

Leave a Reply